Cara Orang Eropa Zaman Dulu Menyembuhkan Sakit Kepala

Rebalas Pedia - kepala adalah salah satu keluhan kesehatan tertua dalam sejarah manusia.

Jauh sebelum hadirnya aspirin, ibuprofen, atau berbagai obat modern lainnya, masyarakat di berbagai era mencoba beragam cara — seringkali ekstrem — untuk meredakan rasa sakit yang terus-menerus menghantui.

Pada tahun 1890-an, dunia medis bereksperimen dengan metode yang kini lebih terasa seperti adegan horor dibandingkan dengan prosedur penyembuhan: terapi getaran.

Sebuah foto bersejarah memperlihatkan seorang pasien yang tegang di bawah helm logam, sementara seorang dokter memukul sebuah landasan di bawahnya.

Teorinya, gelombang kejut dari hentakan tersebut diyakini mampu “menyelaraskan kembali saraf” dan mengurangi rasa sakit. Dalam kenyataannya, metode ini kemungkinan hanya memperburuk penderitaan — menimbulkan dengungan menyakitkan di kepala tanpa memberikan solusi nyata.

Namun akar cerita ini bermula jauh lebih lama — dan jauh lebih kelam. Pada Abad Pertengahan, migrain sering diobati dengan opium yang direndam dalam cuka, kemudian ditempelkan pada pelipis atau dihirup melalui hidung.

Metode ini tidak benar-benar menyembuhkan, melainkan sekadar membuat pasien mati rasa. Tujuan utamanya bukan menghilangkan sakit kepala, tetapi membuat penderitanya terlalu linglung untuk memedulikan rasa sakit.

Ketika upaya tersebut tidak memberikan hasil, manusia beralih pada salah satu pengobatan tertua sekaligus paling brutal: trepanasi.

Di berbagai peradaban kuno — Eropa, Mesir, hingga Amerika Selatan — para tabib melubangi tengkorak pasien untuk “melepaskan roh jahat” atau mengurangi tekanan dalam kepala. Sebagian pasien selamat.

Banyak lainnya tidak. Namun keyakinan yang mendasari praktik ini sama: untuk membebaskan pikiran dari rasa sakit, tubuh terkadang harus dikorbankan.

Kini, kita hanya perlu menelan satu tablet parasetamol atau ibuprofen untuk kembali beraktivitas.

Tetapi setiap obat yang kita konsumsi sesungguhnya merupakan puncak dari ribuan tahun keputusasaan, eksperimen, kepercayaan keliru, dan ketekunan manusia dalam memahami rasa sakit. Penderitaan mendorong lahirnya pengobatan.

Rasa sakit mengajarkan kita empati. Dan di antara keduanya, umat manusia akhirnya belajar cara menyembuhkan.

Komentar