Rebalas Pedia - Rekonstruksi wajah Ramses II—salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Mesir Kuno—kini memungkinkan kita untuk menatap langsung rupa sang penguasa setelah lebih dari 3.000 tahun berlalu.
Melalui kemajuan teknologi forensik dan rekonstruksi wajah, sosok yang sebelumnya hanya dikenal melalui mumi dan patung kini tampil lebih manusiawi, namun tetap memancarkan kewibawaan seorang firaun besar.
Ramses II, atau Ramses Agung, merupakan firaun ketiga dari Dinasti ke-19 dan memegang tampuk kekuasaan selama 66 tahun—masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah Mesir kuno. Ia dikenang karena warisan arsitektural yang luar biasa, seperti Kuil Abu Simbel dan Ramesseum, serta ratusan patung dirinya yang tersebar di berbagai penjuru Mesir.
Di bidang militer, ia memimpin pasukannya dalam Pertempuran Kadesh melawan bangsa Het, yang tercatat sebagai salah satu konflik terbesar pada zamannya. Namun, sejarah besar sering kali menyimpan sisi kelam.
Ramses II juga dikenal sebagai penguasa otoriter, yang bersikap keras terhadap lawan politik dan para budak. Sebagian kalangan meyakini bahwa ia adalah firaun yang disebut dalam kisah Nabi Musa—yang menolak membebaskan bangsa Israel hingga terjadi rangkaian bencana besar.
Meski hipotesis ini masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi, citra Ramses sebagai penguasa tegas dan kontroversial telah melekat kuat dalam narasi sejarah maupun tradisi keagamaan.
Rekonstruksi wajahnya—dengan garis rahang yang kokoh, sorot mata yang tajam, dan ekspresi dingin—menghadirkan kembali aura kekuasaan sekaligus misteri yang membalut figur legendaris ini.
Ramses II bukan hanya simbol kemegahan peradaban Mesir Kuno, tetapi juga pengingat bahwa sejarah dibentuk oleh kejayaan, konflik, dan keteguhan tangan penguasa.
Sumber: National Geographic & Egyptian Ministry of Antiquities – Facial Reconstruction of Ramses II

Komentar
Posting Komentar